Masjid Agung Pondok Tinggi, Keindahan Sebuah Masjid Kuno di Kerinci
Masjid Agung Pondok Tinggi merupakan masjid yang terletak di Desa Pondok Tinggi, Kota Sungai Penuh. Masjid ini menjadi salah satu masjid tertua di Kerinci yang dibangun pada tahun 1874. Memiliki desain khas masjid Indonesia zaman dulu, dengan aristektur klasik dan juga berbagai hiasan ukiran berbagai motif.

Wisata Kerinci tak melulu tentang keindahan alam yang memang telah dikenal dunia. Nyatanya, pada daerah dataran tinggi ini juga memiliki beberapa tempat wisata religi yang tak kalah menarik untuk dikunjungi. Masjid-masjid tua, dengan seni arsitektur indah nan klasik serta nilai sejarah tinggi bisa dijumpai di Kerinci, salah satunya adalah Masjid Agung Pondok Tinggi.

Menjadi saksi bisu berkembangnya agama Islam di tanah Kerinci, Masjid Agung Pondok Tinggi seolah memiliki magnet tersendiri. Tempat ibadah bagi umat Islam ini memiliki beberapa keunikan pada segi arsitektur, ukiran-ukiran serta bedug berukuran raksasa didalamnya. Bentuk bangunan yang masih dipertahankan pun memilki kesan klasik dan banyak dikagumi oleh ahli seni arsitektur.

Secara administratif, Masjid Agung Pondok Tinggi terletak pada Jalan Soekarno Hatta, Desa Pondok Tinggi, Kota Sungai Penuh, Provinsi Kerinci. Lokasi masjid yang berada pada pusat kota pun sangat mudah untuk ditemukan oleh wisatawan. Berbagai moda transportasi umum bisa dimanfaatkan pengunjung, dengan harga terjangkau dan tentunya cukup nyaman.

Sejarah Masjid Agung Pondok Tinggi

Masjid ini dibangun pada 1 Juni tahun 1874 Masehi, dan tercatat sebagai salah satu masjid tertua yang ada di Kerinci. Pembangunannya sendiri dilakukan secara gotong royong dari warga Sungai Penuh yang kala itu hanya terdiri dari 90 kepala keluarga. Tak hanya laki-laki saja, para wanita pun turut membantu dalam membangun masjid ini.

Sebelum pembangunan masjid, selama tujuh hari tujuh malam diadakan pesta keramaian yang turut dihadiri seluruh masyarakat setempat dan juga pangeran pemangku Jambi. Dalam pesta ini turut pula disembelih 12 kerbau. Cerita ini berkembang secara turun temurun dari tetua desa setempat.

Masjid Agung Pondok Tinggi

Secara bergotong-royong, warga pun mulai mengumpulkan kayu dan bahan bangunan lain serta membangun pondasi Masjid Agung Pondok Tinggi. Setelah pondasi selesai, dibuatlah sebuah panitia pelaksanaan pembangunan masjid dengan cara bermusyawarah. Akhirnya, hasil dari musyawarah tersebut menunjuk empat orang sebagai panitia yaitu Bapak Rukun (Rio Mandaro), Bapak Hasip (Rio Pati), Bapak Timah Taat dan juga Haji Rajo Saleh.

Sedangkan arsitek perancang desain masjid adalah M. Tiru yang tak lain adalah warga Desa Pondok Tinggi. Selain itu ditunjuk pula 12 tukang bangunan, yang dinilai cakap dan memiliki keahlian khusus dalam pembangunan masjid. Uniknya, dalam proses pembangunan untuk membangkitkan semangat kerja warga diadakan pula pementasan kesenian Kerinci seperti seni pencak silat.

Secara menyeluruh, pembangunan masjid pun akhirnya selesai pada tahun 1902. Terhitung hingga saat ini, Masjid Agung Pondok Tinggi telah berusia lebih dari 100 tahun. Masjid ini pun pernah disinggahi oleh mantan wakil Presiden Republik Indonesia yaitu Mohammad Hatta, beliau juga yang menyarankan penamaan nama masjid ini.

Pesona Masjid Agung Pondok Tinggi

Desain dari Masjid Agung Pondok Tinggi ini menganut dari gaya arsitektur masjid-masjid di Indonesia pada zaman dahulu. Hal ini bisa dilihat dari atap masjid yang berbentuk limas dan bertumpuk lapis tiga. Hiasan berbentuk bulan sabit dan bintang pun bisa dijumpai pada bagian atap masjid. Antara lapisan-lapisan atap ini, dihiasi pula ukiran warna-warni berongga sebagai ventilasi udara.

Bentuk atap Masjid Agung Pondok Tinggi memiliki 3 filosofi hidup yang dianut dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Desa Pondok Tinggi. Ketiga filosofi tersebut diantaranya adalah bapucak satu (berpucuk satu), berempe jurai (berjurai empat), dan batingkat tigae (bertingkat tiga).

Masjid Agung Pondok Tinggi

Masjid yang memiliki luas bangunan 900 meter persegi, dan tinggi mencapai 30,5 meter ini ditopang dengan 36 buah tiang nan kokoh. Tiang-tiang ini pun dikelompokkan dalam tiga bagian yaitu Tiang Panjang Sambilea (Tiang Panjang Sembilan), Tiang Panjang Limao (Tiang Panjang Lima), dan Tiang Panjang Duea (Tiang Panjang Dua).

Tiang Panjang Sambilea merupakan tiang dengan panjang sekitar 9 depa atau 15 meter. Tiang ini berdiri menyangga masjid dengan jarak sekitar 10 hingga 11 meter antara satu tiang dengan tiang lainnya. Tiang ini berjumlah empat, membentuk persegi empat dan ditanami paku emas sebagai penolak bala. Besar dari tiang ini juga sama persis dengan yang ada di Ka’bah di Mekkah.

Sedangkan Tiang Panjang Limao memiliki ukuran lima depa atau sekitar 8 meter. Tiang ini berjumlah 8 buah, dan ditata membentuk segi empat. Tiang ketiga atau yang disebut Tiang Panjang Duea memiliki ukuran sekitar 2 depa atau sekitar 5,4 meter. Tiang ini dulunya berjumlah 24, namun kini hanya tinggal 23 karena diambil satu untuk membuat mihrab masjid.

Selain tiang-tiang tersebut, masih ada tiang dua tiang gantung yang ukurannya sekitar 7 meter. Tiang gantung ini berjumlah dua buah, serta diklaim cukup elastis. Uniknya, masjid ini dibangun tanpa menggunakan paku atau bahan perekat pada umumnya. Dinding-dinding hanya diapitkan dan disusun sedemikian rupa yang justru memiliki ketahanan terhadap bencana gempa bumi.

Dinding-dinding pada Masjid Agung Pondok Tinggi pun juga dipercantik dengan berbagai macam ukiran berbentuk tumbuhan dan bunga-bunga. Pada dinding pun terdapat lubang-lubang ventilasi udara, serta dihiasi dengan motif geometris. Selain itu pada sudut-sudut pun dapat ditemukan adanya hiasan berbentuk sulur-sulur.

Di dalam ruangan masjid terdapat mihrab yang berukuran sekitar 3,1 meter x 2,4 meter. Mihrab ini pun dihiasi dengan berbagai ukiran indah, serta keramik. Berbeda dengan masjid pada umumnya, tempat untuk mengumandangkan adzan berada pada tiang utama masjid. Terdapat 17 buah anak tangga untuk mencapainya, serta berhiaskan motif-motif nan menawan.

Tak hanya itu saja, keunikan lain dari Masjid Agung Pondok Tinggi adalah adanya dua beduk dengan ukuran berbeda. Beduk pertama berukuran lebih besar dengan panjang mencapai 7,5 meter, serta memiliki diameter 1,15 meter. Beduk ini disebut “Tabuh Larangan” yang hanya dibunyikan ketika terjadi peristiwa bencana alam. Sedangkan beduk yang lebih kecil memiliki panjang 4,25 meter dan diameter sekitar 75 cm. 

Fasilitas Masjid Agung Pondok Tinggi

Masjid Agung Pondok Tinggi pun dilengkapi dengan berbagai fasilitas yang cukup memadai. Seperti kamar mandi, tempat wudhu, dan juga tempat parkir yang cukup luas. Terdapat pula sebuah perpustakaan dengan koleksi berbagai buku. Pada tempat ibadah ini pun sering diselenggarakan berbagai kegiatan keagamaan untuk masyarakat setempat.

Masjid juga dilengkapi dengan pemancar radio, yaitu Radio Suara Pondok Tinggi. Radio ini menyiarkan berbagai kegiatan dakwah, serta aktivitas-aktivitas keagamaan di Desa Pondok Tinggi. Usai berkunjung ke masjid, wisatawan pun bisa menemukan aneka kuliner dan jajanan khas Kerinci di Kota Sungai Penuh.

Baca Juga: Hutan Pinus Sanggaran Agung, Tempat Hunting Foto Kekinian di Kerinci

Apabila hendak menghabiskan waktu dengan bermalam, terdapat beberapa pilihan hotel dan penginapan di Kota Sungai Penuh yang bisa disewa. Berwisata religi bisa meningkatkan keimanan, dan menenangkan hati. Berikut beberapa aktivitas yang bisa dilakukan pengunjung ketika berada di Masjid Agung Pondok Tinggi.

Berwisata Religi

Saat kamu berlibur di Kerinci dan tengah berada di Kota Sungai Penuh, maka mampirlah ke masjid yang bersejarah ini. Apalagi jika kamu hobi dan senang berwisata religi, tempat ini sangat pas untuk kamu kunjungi. Di masjid ini kamu bisa beribadah menunaikan sholat, seperti yang dilakukan mantan Wakil Presiden Indonesia Mohammad Hatta pada tahun 1953.

Setelah beribadah, kamu bisa mengaji didalam masjid serta merasakan berada pada masjid tertua di Kerinci. Kamu pun bisa ikut dalam kegiatan keagamaan yang sering diselenggarakan di masjid ini. Datanglah pada waktu yang tepat, saat kegiatan sedang dilaksanakan. Masyarakat sekitar pun sangat terbuka dan dengan senang hati akan mengizinkanmu ikut dalam kegiatan ini.

Menikmati Keindahan Masjid

Usai wisata religi, kamu pun bisa memandangi indahnya arsitektur masjid. Banyak pula para peneliti dan ahli arsitektur yang datang ke mesjid ini dan mereka mengaku kagum dengan keindahan Masjid Agung Pondok Tinggi. Kamu bisa berkeliling melihat aneka ukiran dan motif indah diseluruh bagian masjid.

Kamu pun juga bisa melihat beduk yang bernama Tabuh Larangan. Beduk ini cukup unik, dan memiliki ukurang yang besar. Keindahan interior masjid pun bisa kamu nikmati, dan tak kalah dengan masjid-masjid modern yang ada saat ini. Terkesan klasik, dan bernilai historis tinggi, konstruksi masjid pun mencermikan betapa pandainya orang zaman dahulu membangun sebuah bangunan.

Hunting Foto

Aneka hiasan dan ukiran yang memenuhi seluruh bagian masjid pun bisa kamu abadikan dengan kamera. Tak hanya bagian luar, bagian dalam pun semakin indah dan bisa kamu potret. Namun sebaiknya, mintalah izin terlebih dahulu kepada penjaga masjid dan jangan sampai kamu mengganggu para jemaah masjid.

Kamu bisa mendapatkan hasil foto yang menarik, dengan memotret mihrab masjid dan bagian dinding-dinding masjid. Keunikan dari tempat muadzin mengumandangkan adzan, serta beduk berukuran besar pun menjadi daya tarik tersendiri yang harus kamu abadikan. Bawalah kamera terbaik yang kamu miliki agar hasil foto semakin maksimal.

Baca Juga: 235 Tempat Wisata di Jambi Paling Menarik dan Wajib Dikunjungi

Peta Lokasi Masjid Agung Pondok Tinggi

Tips Berwisata di Masjid Agung Pondok Tinggi

  • Jika hendak berkunjung ke masjid, gunakanlah pakaian yang sopan dan tertutup.
  • Hormatilah jemaah masjid yang tengah beribadah di dalam masjid, dan jangan mengganggu.
  • Berperilakulah sopan, dan jaga tutur kata selama berada di dalam masjid.
  • Taatilah tata tertib yang ada di masjid ini.
  • Jika kamu ingin memotret, terlebih dahulu izinlah kepada penjaga masjid.
  • Dilarang makan dan minum, ataupun membawa makanan ke dalam masjid.
  • Jagalah kebersihan masjid, dan jangan membuang sampah sembarangan di lingkungan masjid.
  • Jagalah kelestarian dan keindahan masjid, karena masjid ini masuk dalam cagar budaya yang wajib untuk kamu lestarikan.

You may also like