Masjid Agung Al-Makmur, Kemegahan Masjid Bergaya ala Timur Tengah
Masjid Agung Al-Makmur atau yang juga disebut Masjid Agung Al-Makmur Lampriet merupakan masjid di Banda Aceh, yang sempat hancur karena terjangan tsunami pada tahun 2004. Masjid ini lalu dibangun kembali dengan dana bantuan dari Oman, serta memiliki keindahan arsitektur bak masjid di Timur-Tengah.

Tak hanya dikenal memiliki berbagai wisata alam menarik, Banda Aceh juga menawarkan wisata religi pada deretan masjid-masjid megah di ibukota Serambi Mekkah ini. Tercatat Banda Aceh memiliki beberapa masjid dengan gaya arsitektur ala Timur Tengah yang tak hanya indah, tetapi juga memiliki nilai sejarah tinggi. Salah satunya adalah Masjid Agung Al-Makmur yang menjadi kebanggaan masyarakat Aceh selain Masjid Raya Baiturrahman.

Jika dibandingkan, memang Masjid Agung Al-Makmur ini tak sebesar dan semegah Masjid Raya Baiturrahman. Meskipun demikian, masjid ini tetap menjadi tujuan wisata religi yang tak pernah sepi dari jamaah. Masjid ini memiliki desain yang menawan serta gaya arsitektur menganut masjid-masjid di Timur Tengah. Selain itu, berbagai ornamen, dan kaligrafi ayat suci Al-Qur’an juga semakin mempercantik tempat ibadah umat muslim ini.

Masjid Agung Al-Makmur

Secara geografis, Letak Masjid Agung Al-Makmur berada pada Jalan Taman Ratu Syafaruddin atau Jalan Mohammad Daud Beureuh, Lampriet, Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh. Letaknya yang berada ditengah pusat kota dan sangat strategis, membuat wisatawan sangat mudah untuk berkunjung ke masjid ini. Terdapat beberapa jenis angkutan umum, atau wisatawan bisa menggunakan kendaraan pribadi.

Tak hanya indah, masjid ini juga memiliki sejarah panjang dalam perjalanan Kota Banda Aceh dari masa ke masa. Sempat diporak-porandakan oleh bencana tsunami yang melanda Aceh pada tahun 2004 lalu, Masjid Agung Al-Makmur dibangun kembali dengan dana batuan dari Sultan Oman sehingga masjid ini juga dijuluki oleh masyarakat setempat sebagai Masjid Oman.

Sejarah Masjid Agung Al-Makmur

Masjid Agung Al-Makmur dibangun pada tahun 1979 secara swadaya dan gotong royong oleh masyarakat setempat. Peletakan batu pertama sendiri dilakukan oleh Prof. A. Madjid Ibrahim. Pembangunannya dilakukan secara bertahap dan kala itu masjid ini berstatus sebagai masjid Agung Banda Aceh.

Mulanya masjid ini diberi nama Masjid Baitul Makmur, dibangun di kawasan Lampriet yang dikenal merupakan daerah pegawai pemerintahan. Daerah ini juga dulunya pernah dikuasai oleh Belanda, dan disebut dengan tanah erpah. Dulunya masjid ini tak semegah seperti yang bisa dilihat sekarang, setelah dihancurkan oleh bencana tsunami di tahun 2004, dilakukanlah pembangunan kembali sehingga kini nampak cantik dan indah.

Kala tsunami menerjang Aceh, masjid ini runtuh dan tak bisa bertahan dari terjangan air bah. Masyarakat setempat beranggapan bahwa Masjid Agung Al-Makmur sudah tidak bisa digunakan beribadah lagi. Seminggu pasca bencana tsunami, Pemerintah Oman yang diwakili oleh Direktur Eksekutif Oman Charity datang untuk melihat langsung dahsyatnya bencana tsunami ini.

Setelah tinggal selama 45 hari di Aceh, beliau pun kembali ke Oman untuk melapor kepada Sultan Oman yaitu Sultan Qaboos. Berawal dari keprihatinan Sultan Oman, datanglah bantuan senilai Rp. 17 milliar untuk membangun kembali Masjid Agung Al-Makmur. Seluruh rangkaian proses pembangunan, desain bangunan dan pendanaan, seluruhnya juga ditangani langsung pemerintah Oman.

Selain memberikan bantuan dalam pembangunan masjid, pemerintah Oman juga secara berkala mengirimkan bahan makanan, obat-obatan, serta pembangunan rumah dan santunan bagi anak yatim-piatu. Bantuan dari Oman ini tentunya sangat membantu dalam proses rekonstruksi dan pemulihan pasca bencana tsunami.

Aceh sendiri memang memiliki hubungan yang sangat erat dengan Oman dimasa lampau. Hubungan ini terjalin secara tak langsung dalam masuknya peradaban Islam di bumi Serambi Mekkah. Proses pembangunan Masjid Agung Al-Makmur pun akhirnya rampung pada tahun 2008, dan timbul sebuah gagasan untuk menamai masjid ini dengan nama Sultan Qoobus untuk mengenang jasa-jasa beliau.

Namun Sultan Qoobus dengan segala rasa rendah hati, mengaku ikhlas dalam membantu Aceh dan menolak usulan tersebut. Masjid pun akhirnya berubah nama menjadi Masjid Agung Al-Makmur yang diresmikan pada tanggal 19 Mei tahun 2009. Kala itu Ali Ibrahim Al Raisy selaku Direktur Eksekutif Oman Charity mengungkapkan rasa bahagianya atas pembangunan masjid dalam sebuah pidato.

Pesona Masjid Agung Al-Makmur

Memiliki luas bangunan mencapai 1.800 meter persegi dan berdiri diatas lahan seluas 7.572 meter persegi, Masjid Agung Al-Makmur ini diklaim bisa menampung jamaah hingga 2000 orang. Namun ketika sholat jum’at banyak juga jamaah yang tidak tertampung, dan membludak hingga harus beribadah di luar masjid.

Masjid ini mengadopsi gaya masjid ala Timur Tengah yang bisa dilihat kemegahan serta keindahan arsitekturnya. Bisa dijumpai adanya dua menara yang menjulang tinggi serta sebuah kubah besar diatap masjid. Memiliki dua lantai, bangunan Masjid Agung Al-Makmur ini juga dilengkapi berbagai fasilitas sehingga dapat memberikan kenyamanan bagi umat yang beribadah.

Masjid Agung Al-Makmur

Ketika berkunjung ke masjid, wisatawan bisa melihat banyaknya ornamen, ukiran serta kaligrafi dari petikan ayat-ayat Al-Qur’an yang semakin mempercantik keindahan masjid. Kaligrafi dan ukiran ini bisa dijumpai pada sisi masjid seperti pada bagian mimbar, dinding masjid serta langit-langit masjid. Terdapat pula sebuah lampu hias yang sangat indah didalam bangunan masjid.

Berbeda dengan masjid pada umumnya yang ada di Aceh, jika biasanya lantai masjid berhiaskan marmer, lantai di Masjid Agung Al-Makmur ditutupi semacam karpet khusus masjid yang juga disebut dengan hambal. Hanya pada lantai dua masjid saja, yang tidak dilengkapi dengan hambal. Pada bagian halaman, masjid juga dihiasi dengan taman serta aneka tumbuhan dan payung-payung cantik.

Selain itu, masjid ini juga sering digunakan untuk berbagai acara keagamaan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Banda Aceh dan Provinsi Aceh. Seperti acara pekan budaya, dan juga acara baca Al-Qur’an yang merupakan bagian dari proses seleksi untuk para calon walikota Banda Aceh. Kegiatan ini memang sangat unik, karena baru di Aceh saja yang menerapkan uji kemampuan baca Al-Qur’an dalam pemilihan walikota.

Pada setiap malam pergantian tahun, di Masjid Agung Al-Makmur juga selalu dilaksanakan zikir serta sholat malam. Selain menjadi pusat kegiatan agama, masjid-masjid yang ada di Aceh juga seolah merupakan destinasi wisata yang sangat menarik untuk dikunjungi. Keindahan serta kemegahan bangunan masjid mampu membius siapa saja yang datang melihatnya.

Fasilitas Masjid Agung Al-Makmur

Kemegahan serta keindahan Masjid Agung Al-Makmur juga semakin lengkap dengan adanya fasilitas-fasilitas masjid yang sangat memadai. Di masjid ini sudah terdapat toilet bagi pria dan wanita, tempat parkir luas, tempat wudhu, serta penitipan sepatu dan alas kaki jamaah. Tak hanya itu, masjid juga telah dilengkapi dengan pendingin udara sehingga memberikan kenyamaan ketika beribadah.

Masjid ini juga dilengkapi dengan fasilitas perpustakaan yang berisi berbagai macam buku tentang agama Islam. Selain itu juga terdapat aula serbaguna, koperasi masjid, kantor sekertariat dan juga taman masjid lengkap dengan payung-payung yang bisa digunakan pengunjung untuk berteduh. Tak hanya itu, di kompleks masjid ini telah dibangun TPA atau madrasah untuk pendidikan agama Islam.

Baca Juga: Masjid Raya Baiturrahman, Masjid Bersejarah yang Sekarang Berubah Wajah

Jika ingin menginap, wisatawan juga bisa memilih hotel serta penginapan yang ada disekitar lokasi masjid. Selain berwisata religi, pengunjung juga bisa berwisata kuliner dengan mencicipi berbagai masakan khas Aceh yang ditawarkan rumah makan dan restoran disekitar masjid.

Berwisata di masjid yang ada di Kota Banda Aceh ini, bisa menjadi pilihan menarik apabila kamu ingin berwisata sekaligus beribadah. Berikut beberapa kegiatan yang bisa kamu lakukan ketika berada Masjid Agung Al-Makmur.

Menikmati Keindahan Masjid dan Wisata Religi

Selain berwisata religi, kamu juga bisa menikmati keindahan bangunan masjid yang bergaya ala Timur Tengah ini. Usai beribadah, kamu bisa menelurusi tiap sisi masjid serta melihat kemegahan bangunan yang pernah dirobohkan oleh dahsyat tsunami pada tahun 2004 lalu.

Di masjid ini kamu bisa beristirahat di taman, serta menikmati suasana asri dengan adanya tanaman hijau yang tumbuh disekitar masjid. Angin sepoi-sepoi pun bisa kamu rasakan, sambil mengusir rasa penat usai melakukan aktivitas sehari-hari. Disekitar masjid juga telah tersedia payung-payung yang memberikan kenyamanan bagi para pengunjung.

Hunting Foto

Jika kamu tengah mencari objek menarik untuk memotret, kamu bisa berkunjung ke Masjid Agung Al-Makmur ini. Terdapat banyak sekali objek indah dan menarik yang bisa kamu abadikan dengan kamera. Dengan berjalan mengitari kompleks masjid kamu bisa mendapatkan spot-spot lain serta view yang lebih menawan.

Kamu bisa memotret kemegahan masjid ini dari luar, dan memotret kubah atau dua menara masjid yang menjulang tinggi. Selain itu, keindahan kaligrafi yang menghiasi dinding-dinding masjid, juga menjadi objek yang menarik. Kamu pun bisa berfoto didepan masjid untuk mengabadikan momen berharga ini.

Baca Juga: 250 Tempat Wisata di Aceh Paling Menarik dan Wajib Dikunjungi

Peta Lokasi Masjid Agung Al-Makmur

Tips Berwisata di Masjid Agung Al-Makmur

  • Gunakanlah pakaian yang sopan dan tertutup ketika berkunjung ke masjid.
  • Jagalah tutur kata, perilaku dan bertindaklah sopan saat berada dilingkungan masjid.
  • Taatilah peraturan dan tata tertib yang ada dimasjid.
  • Jika kamu ingin memotret didalam masjid, sebaiknya mintalah izin terlebih dahulu pada pengurus masjid.
  • Jagalah kebersihan masjid, dan janganlah kotori masjid dengan membuang sampah sembarangan.
  • Jagalah kelestarian, dan jangan merusak keindahan bangunan masjid.

You may also like